Apa itu Miqat Umroh – Ada beberapa hal wajib yang perlu dilakukan umat Muslim yang melakukan ibadah haji & umroh, yaitu miqat. Berikut ini adalah pengertian & jenis-jenis miqat.

Miqat berasal dari bahasa Arab yang berarti menetapkan waktu atau menentukan batas. Miqat dalam ibadah haji & umroh adalah waktu-waktu yang dianggap sah melakukan ibadah haji dan tempat-tempat untuk memulai ihram haji & umroh.

Terdapat dua jenis miqat umroh dan haji yaitu miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat), berikut penjelasannya:

Baca Juga : Hukum, Syarat, dan Tata Cara Umroh

Miqat Zamani
Miqat zamani adalah waktu dibolehkan untuk seseorang melakukan ihram(niat) haji, di bulan Syawal, Dzulqa’dah, & Zulhijjah. Apabila melakukannya sesudah ataupun sebelumnya dibulan tersebut, maka tidak sah hajinya.

Niat/ihram haji itu wajib dimusim haji, yaitu dibulan Syawal, Dzulqa’dah, dan satu hari bulan Dzulqa’dah (dalam rentang waktu 69 hari). Hal ini diartikan, meskipun sebagian besar jemaah haji memulai niatnya saat berpakaian ihram di tanggal 8 Zulhijjah, mereka boleh berniat ihram pada bulan Syawal, karena sudah termasu bulan-bulan haji.

Berikutnya, barang siapa yang berihram sebelum itu maka ibadah hajinya tidak sah. Begitu pula bagi mereka yang datang terlambat & berniat ihram ditanggal 10 Zulhijjah.

Miqat Makani
Miqat makani ialah tempat seseorang wajib memulai ihram(niat) haji atau umroh. Dapat diartikan sebagai tempat batas paling akhir bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji atau umroh untuk memulai niat ihram.

Hal ini wajib dilakukan sebagaimana hadis Rasulullah SAW berikut:

“Tidak diperbolehkan melewati (miqat makani), kecuali dengan melakukan ihram.” (HR Thabrani)

Terkait miqat makani, Rasulullah SAW telah memberikan tuntunannya bagi siapa saja yang hendak melaksanakan haji atau umrah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadisnya yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata, “Nabi Muhammad menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi mereka yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan umrah. Sedangkan bagi orang-orang selain itu (yang tinggal lebih dekat ke Makkah daripada tempat-tempat itu), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Makkah, mereka memulainya dari (rumah mereka) di Makkah.” (HR Bukhari nomor 1427)

Baca Juga : Keutamaan Umroh Pada Bulan Ramadhan

Dari isi hadis di atas, bisa dikatakan terdapat lima miqat makani, yaitu:

  • Dzul Hulaifah diperuntukkan bagi penduduk Madinah.
  • Al-Juhfah diperuntukkan bagi penduduk Syam.
  • Qarnul Manazil diperuntukkan bagi penduduk Najed.
  • Yalamlam diperuntukkan bagi penduduk Yaman.
  • Makkah diperuntukkan bagi penduduk Makkah itu sendiri. Selain itu juga sebagai miqatnya jemaah yang berasal dari negara lain yang menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan melalui wilayah tersebut.

Demikianlah pengertian dan jenis-jenis miqat dalam ibadah haji dan umroh. Semoga informasinya bermanfaat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here